Mahasiswa sebagai agent of Change, mungkin kata-kata itu sudah tidak asing lagi di telinga para mahasiswa khususnya bagi mereka yang aktif di dunia pergerakan. Mahasiswa, ketika dilihat dari unsur katanya yang berasal dari kata Siswa dan mendapat imbuhan Maha di depannya, seakan-akan tak mau kalah dengan Tuhan yang merupakan Maha atas segala Maha. Yang menjadi pertanyaan kenapa disebut Mahasiswa? Dalam kamus umum bahasa Indonesia hanya dikatakan bahwa mahasiswa adalah pelajar yang belajar di perguruan tinggi, secara tidak langsung merupakan tingkat lanjutan dari Siswa yang dulunya di sekolah menengah.
Namun, itu bukanlah suatu masalah ketika nama tak lagi dihiraukan, karena peran itulah yang lebih penting saat ini.
Dalam Sejarahnya Mahasiswa mempunyai peran yang sangat penting bagi perkembangan Negara ini. Mari kita tengok kembali, lahirnya sumpah pemuda, Kemerdekaan Bangsa Indonesia, berakhirnya Masa Demokrasi terpimpin, runtuhnya Era Orde Baru, Semua itu digerakkan oleh para Pemuda dan sebaian besar merupakan Mahasiswa.
Berbicara tentang peran mahasiswa saat ini, seakan-akan telah mati suri, atau bahkan benar-benar telah mati? Saat ini mereka pun telah dirasuki oleh roh-roh westernisasi, Matrealistik, dan yang paling menyakitkan sudah terkena virus Individualistik.
Tentunya akan sangat banyak yang menyangkal hal tersebut, meski sebenarnya tanpa disadari sudah terasuki. Apakah hal tersebut merupakn dampak yang negatis? Oh belum tentu, apa lagi pada era saat ini, dimana pengaruh budaya asing seakan tak terbendung. Positif negatifnya bergantung pada bagaimana menyikapinya. lalu apa permasalahannnya, sehingga berani mengatakan bahwa peran Mahasiswa sudah pudar?
Permasalahannya ada pada eksistensi Mahasiswa sebaai agent of changes, apakah saat ini eksistensinya di tengah masyarakat masih bertahan atau sudah pudar? hal itu dapat dilihat dari respon mereka terhadap isu-isu di negara ini. Bagaiman respon yang mereka berikan, bagaimana tanggapan masyarakat terhadap respon yang mereka berikan? Aksi turun ke jalan atau demonstrasi menjadi pilihan pertama atau sebagai jalan terakhir ketika semua suara sudah tak lagi di hiraukan?
Mirisnya, ketika Demonstrasi yang anarkis dilakukan hingga seolah-olah mereka masih hidup, dan masih peduli pada rakyat kecil. Namun, setelah saat itu tak ada lagi tindak lanjut apakah demonstrasi tersebut berhasil memperjuangkan hak rakyat atau malah sebaliknya. Banyak fasilitas umum yang hancur akibat anarkisme yang mereka lakukan, sedangkan, fasilitas umum tersebut disediakan untuk masyarakat.
Mungkin dengan cara Demonstrasi tersebut mereka ingin memberitahukan bahwa mereka masih ada, tapi keberadaan mereka seperti mayat hidup. Mahasiswa yang katanya bisa membantu masyarakat karena tidak punya kepentingan, tapi ternyata banyak mahasiswa sekarang yang sudah mempunyai kepentingan termasuk di dunia politik.
Mahasiswa yang dulunya duduk bersama, mendiskusikan masalah bangsa dan mencari solusinya, sekarang lebih mementingkan golongannya sendiri, lebih mementingkan siapa mereka, dari organisasi mana. Itulah sebabnya mahasiswa saat ini, mati suri, mereka juga sudah berada di tepi jurang politik atau bahkan sudah memasukinya dengan membawa kendaraan organisasi mereka. Itu sudah menjadi rahasia umum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar